Selamat Datang di Blog Saya

Selasa, 18 Juli 2017

ISTILAH-ISTILAH HADIS

ISTILAH-ISTILAH HADIS
A.    Hadis
Hadis menurut bahasa (lugah) mempunyai beberapa pengertian yaitu:
-        Jadid berarti yang baru, lawannya Qadim (yang lama). Jamak dari hadis di sini hidas, hudasah, atau hudus.
-        Qarib (yang dekat), yang belum lama terjadi seperti dalam ungkapan:
حَدِيْثُ الْعَهْدِ بِاْلإِسْلَامِ
(Baru masuk Islam)
-        Khabar (warta), atau sesuatu yang diperbincangkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. Dari makna inilah diambil ungkapan “Hadis Rasulillah.”
Hadis yang bermakna khabar ini diambil dari kata haddasa, yuhaddisu, tahdis. Yang bermakna riwayat atau ikhbar (mengabarkan). Maka jika ada ungkapan:
حَدَّثَنَا بِحَدِيْثٍ أَيْ أَخْبَرَنَا بِحَدِيْثٍ
(Ia mengabarkan sesuatu khabar kepada kita)
Kata hadis yang bermakna khabar, lebih popular dijamakkan dengan kata ahadis dari bentuk lainnya, yaitu hudsan atau hidsan. Sehingga hadis-hadis dari Rasul dikatakan ahadis Ar-Rasul, tak pernah disebutkan Hudsat Ar-Rasul.
Allah pun menggunakan kata hadis dengan arti khabar seperti dalam firman-Nya:
فَلْيَأْتُوْا بِحَدِيْثٍ مِّثْلِهِ إِنْ كَانُوْا صَادِقِيْنَ (الطور:34)
(Maka cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur’an), jika mereka orang-orang yang benar”. (QS. At-Tur:34).
Sedangkan menurut istilah:
a.       Hadis menurut pengertian ahli hadis  dibagi dua, yaitu pengertian hadis yang terbatas dan pengertian hadis yang luas.
Pengertian yang terbatas adalah:
مَا أُضِيْفَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلاً أَوْ فِعْلاً أَوْ تَقْرِيْرًا أَوْ نَحْوَهًا
“Ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir), dan yang sebagainya”.
Ta’rif ini mengandung empat unsure, yakni perkataan, perbuatan, pernyataan, dan sifat-sifat atau keadaan Nabi Muhammad saw. Yang lain, yang semuanya hanya disandarkan kepada beliau, tidak termasuk hal-hal yang disandarkan kepada para sahabat dan tidak pula tabi’i.
Sementara menurut pengertian yang luas, hadis tidak hanya disandarkan kepada Nabi Muhammad saw., tetapi juga mencakup perkataan, perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada para sahabat atau tabi’i, sehingga dalam hadis ada istilah marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi), manqul (yang disandarkan kepada sahabat), dan maqthu’ (yang disandarkan kepada tabi’i).
b.      Menurut ahli ushul
Menurut ahli ushul, ialah:
أَقْوَالُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَفْعَالُهُ وَتَقَارِيْرُهُ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِهِ حُكْمٌ بِنَا
“Segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi yang bersangkut-paut dengan hukum.”
Maka menurut mereka, tidak termasuk hadis sesuatu yang tidak bersangkut-paut dengan hukum, seperti masalah kebiasaan sehari-hari atau adat-istiadat.
B.     Sunnah
Sunnah menurut bahasa adalah jalan yang ditempuh, baik itu terpuji atau tidak terpuji. Sesuatu tradisi yang sudah dibiasakan ddinamai sunnah walaupun tidak baik.
Sedangkan sunnah menurut istilah ahli hadis ialah: “segala yang dinukilkan dari Nabi Muhammad saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik yang terjadi sebelum Nabi Muhammad saw. Diutus menjadi Rasul maupun sesudahnya”.
Mayoritas ahli hadis (Muhadditsin) menegaskan bahwa sunnah dalam pengertian semacam ini adalah murodif (sinonim) dengan kata hadis.
Makna inilah yang dimaksud dengan kata “sunnah” dalam sabda Nabi saw.:
لَقَدْ تَرَ كْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا, كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Sungguh aku telah tinggalkan dua perkara untukmu, kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang kepada keduannya, yakni kitabullah dan sunnah Rasul-Nya”.
            Lawan dari sunnah dalam pengartian tadi ialah bid’ah. Inilah yang dimaksud oleh hadis:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ
“Berpeganglah kamu erat-erat dengan sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin setelah aku”
Beberapa pendapat para ulama:
1.      Al-Imam Ibnu Taimiah mengatakan: “Hadis dikala tidak dikaitkan dengan suatu arti, berarti segala yang diriwayatkan dari Nabi, sesudah beliau menjadi Nabi, baik perkataannya, pekerjaannya, maupun ikrarnya”.
2.      Kata Al-Imam Al-Kamal Ibnu Al-Humam: “sunnah adalah segala yang diriwayatkan kepada Nabi, yang berupa perbuatan atau perkataan. Sedangkan hadis, hanya yang berupa perkataan saja”.
3.      Kata Dr. Taufiq: “sunnah menurut bahasa dan istilah ulama salaf ialah khiththah (garis kerja) dan jalan yang diikuti. Maka yang dinamai sunnah Nabi hanyalah jalan yang beliau praktikkan terus-menerus dan diikuti oleh para sahabatnya”.
Jadi, masih menurut Dr. Taufiq, hadis ialah perkataan (pembicaraan) yang diriwayatkan oleh seorang atau dua orang dan lalu mereka saja yang mengetahuinnya, tidak menjadi pegangan atau amalan umum.
Tegasnya, antara sunnah dan hadis ada perbedaan yang tegas. Menamai sunnah dengan hadis, adalah dari istilah para ulama muta’akhirin belaka. Ahli hadis banyak menggunakan kata hadis, sedangkan ahli ushul fiqih banyak memakai kata sunnah.
C.     Khabar dan Atsar
Khabar menurut bahasa ialah “warta berita yang disampaikan dari seseorang kepada orang lain”.
Kata khabar adalah bentuk tunggal dan jamaknya adalah akhbar. Sinonim kata khabar adalah naba’ jamaknya anba’. Orang yang banyak memberi khabar disebut khabir.
Sedangkan pengertian khabar menurut istilah ahli hadis adalah “segala bentuk berita, baik yang datang dari Nabi, sahabat Nabi, maupun dari tabi’in”.
Melihat defenisi tadi, maka hadis marfu’, hadis mauquf, dan hadis maqthu’ bisa disebut dengan khabar. Dan oleh karena itu, ada pula yang berpendapat bahwa khabar adalah segala bentuk berita (warta) yang diterima bukan dari Nabi saw. Contoh, hadis yang berbunyi:
بَدَأَ الْإِ سْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَا غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam itu mulanya asing dan akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing”.
Kalau ditinjau dari defenisi bahwa khabar itu mencakup hadis marfu’, maka hadis tadi dianggap khabar, karena meski diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Hurairah ra. Menurut sebagian para ahli, hadis ini dianggap marfu’.
Pendapat lain mengatakan bahwa khabar lebih umum dari pada hadis, karena khabar bisa mencakup segala hal yang diriwayatkan, baik yang datang dari Nabi maupun dari yang lain, sedangkan hadis khusus bagi yang diriwayatkan dari Nabi saw. Saja.
Adapun pengertian atsar menurut bahasa adalah “bekas atau dampak sesuatu”. Atau sesuatu yang diambil, missal, doa yang diambil langsung kalimat-kalimatnya dari Nabi saw. Disebut dengan doa ma’tsur.
Sementara pengertian atsar menurut istilah mayoritas ahli hadis “sama dengan khabar dan hadis”. Oleh karena itu, seorang ahli hadis sering disebut dengan julukan Atsary.
Para fuqaha (ahli fiqih) menggunakan kata atsar untuk ucapan-ucapan sahabat, tabi’in, ulama salaf dan lain-lain.
Ada yang berpendapat bahwa atsar lebih umum daripada khabar, dengan alasan bahwa atsar mencakup segala berita yang datang dari Nabi dan lainnya, sementara khabar ditujukan kepada berita yang datang dari Nabi saja.
Dari uraian diatas, untuk membedakan mana yang termasuk hadis, khabar, atau atsar seseorang harus mengetahui kedudukan sanad yang menyampaikan matan hadis yang dimaksud, apakah ia bersambung sampai kepada Nabi atau tidak.     


KANDUNGAN AL-QUR’AN TENTANG AKIDAH DAN IBADAH

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kalamullah yang sangat bermanfaat dan penting bahkan menjadi pedoman kehidupan agar selamat dunia dan akhirat yang telah Allah sediakan bagi umat manusia, namun masih banyak diantara manusia yang kurang mengerti akan pentingnya Al-Qur’an dalam aspek kehidupan, bahkan melupakan bahwa Al-Qur’an itu sebagai pedoman bagi kehidupan manusi yang banyak di dalamnya mengandung berbagai aspek penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang beranggapan bahwa Al-Qur’an itu hanya sekedar bacaan dan tidak mengerti apa keuntungan dari mempelajarinya. Padahal apabila orang tersebut tahu betapa pentingnya mempelajari kandungan Al-Qur;an pasti mereka akan merasa rugi dan menyesal, karna banyak kandungan Al-Qur’an itu memberikan manfaat dan kebaikan bagi manusia. Salah satunya adalah kandungan Al-Qur’an tentang Akidah dan Ibadah yang akan di bahas dalam makalah ini.
Maka dari itu penulis tertarik dan merasa terpanggil untuk membahas secara singkat, jelas, dan padat mengenai kandungan Al-Qur’an ini. Karena ini sebagai salah satu kewajiban bagi umat Islam untuk mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan Akidah dan Ibadah?
2.      Apa saja ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang Akidah dan Ibadah?


C.    Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
1.      Untuk mengetahui pengertian Akidah dan Ibadah
2.      Untuk mengetahui ayat Al-Qur’an yang membahas Akidah dan Ibadah
Tujuan Khusus
1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Al-Qur’an pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan tahun 2016

BAB II

PEMBAHASAN

Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam untuk seluruh umat muslim diseluruh dunia dari awal diturunkan hingga waktu penghabisan manusia didunia. Didalam surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an terdapat kandungan yang secara garis besar dapat kita bagi menjadi beberapa pengertian dari akidah dan ibadah yang masing-masing memiliki kandungan didalam Al-Quran.
A.    Kandungan Al-Qur’an Tentang Akidah
1.      Pengertian Akidah
Akidah adalah masalah yang sangat prinsipil dalam agama Islam, begitu juga dalam agama-agama lain. Aqidah Islam adalah tauhid[1], artinya kepercayaan terhadap keesaan Allah swt. Oleh karena itu, Islam disebut juga agama tauhid.
Secara etimologi kata akidah diambil dari kata dasar العـقـد  yang berarti ikatan. Maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan atau keimanan seperti yakin adanya Allah SWT, diutusnya para Rosul, Malaikat, dan akan datangnya hari akhir. Bukan hanya meyakini adanya zat, bahkan meyakini akan sifat-sifat-Nya. Sedangkan secara terminologi akidah yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa yang menjadi suatu kenyataan teguh dan kokoh. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung didalamnya suatu keraguan apapun pada orang yang meyakini. Akidah juga sebagai dasar atau pondasi manusia dalam menjalani kehidupan. Karena tanpa adanya akidah manusia akan tersesat.
Akidah juga adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Al-Qur’an mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah swt. Yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah swt. Adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir. Itulah salah satu kandungan Al-Qur’an tentang akidah.
2.      Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Akidah
Ayat-ayat Al-Qur’an tentang Akidah Seperti firman Allah swt. Dalam Al-Qur’an sebagai berikut.
1.      Surah Al-Baqarah : 163
                                                وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Tidak ada Tuhan Selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 163).
2.      Surah Al-Ikhlas : 1-4

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ  اللَّهُ الصَّمَدُ  لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ  وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia’.” (QS. Al-Ikhlas : 1-4).
3.      Surah An-Nisa : 36
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa : 36).
Dari ayat di atas, jelas bahwa Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah itu Esa, Tunggal, tidak ada padanannya, karena Allah itu pencipta, maka mustahil/tidak masuk akal bahwa yang mencipta sama dengan yang diciptakan.
M. Quraish shihab menjelaskan dalam bukunya: tujuan diturunkanya al-Quran berbeda dengan kitab-kitab ilmiyah. Karenanya dibutuhkan penyelidikan dan penelitian tentang priode diturunkanya wahyu Allah tersebut. Secara garis besar salah satu tujuan diturunkanya al-Qur’an menurut beliau adalah[2]: petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan”.
Dari keterangan Quraish shihab diatas, dapat disimpulkan bahwa memang benar inti Al-Qur’an merupakan akidah islamiyyah yang harus diikuti oleh umat manusia. Dengan kata lain bahwa Al-Qur’an tersebut diturunkan oleh Allah ditengah-tengah umat yang memiliki keyakinan sangat bertentangan dengan yang disampaikan oleh Al-Qur’an. Namun, dengan adanya ajakan, kabar gembira, ancaman  dan juga kebagusan akhlak Rasulullah menjadikan keyakinan yang bertentangan itu dapat berubah secara berangsur-angsur. Perlu diketahui bersama meskipun inti Al-Qur’an mengenai akidah tetapi Al-Qur’an juga meliputi hal-hal lainya seperti akhlak, hukum syariat dan yang lainnya.
Ajaran tentang Akidah ini disebut juga dengan keimanan, seperti kita ketahui bahwa rukun iman itu ada enam.

B.     Kandungan Al-Qur’an Tentang Ibadah
1.      Pengertian Ibadah
Isi pokok Al-Qur’an yang kedua adalah masalah Ibadah[3]. Ibadah adalah bentuk pengabdian seorang hamba kepada sang pencipta (Al-Khaliq), Allah Swt. Sebagai rasa terima kasih atas segala nikmat yang telah diterimannya.
Oleh karena itu Ibadah juga diartikan sebagai ketaatan, tunduk, dan ikut. Sedangkan pengertian ibadah menurut Fuqaha adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dikerjakan untuk mendapatkan ridho dari Allah swt. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama Islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir Rukun Islam, yaitu mengucap dua kalimat syahadat, sholat lima waktu, membayar zakat, puasa dibulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya.
2.      Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Ibadah
Di antara ayat-ayat yang menyuruh manusia beribadah atau menyembah Allah adalah.
1.      Surah Al-Baqarah : 21
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 21).
2.      Surah Az-zariyat : 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Az-Zariyat : 56).
3.      Surah Ali Imran : 51
إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
“Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran : 53).
4.      Surah Al-Bayyinah : 5
 وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah : 5).
Dari ayat di atas, jelas bahwa Al-Qur’an mengajarkan bahwa Ibadah adalah realisasi dari keimanan. Seseorang yang mengakui adanya Allah, adanya malaikat, diutusnya Nabi Muhammad dan sebagainya, tetapi tidak melaksanakan ibadah yang telah ditetapkan Allah melalui Rasulnya, sama dengan bohong, atau dalam agama disebut orang Fasiq. Ibadah ada yang berbentuk ucapan, perbuatan atau niatan dalam hati.
Dalam surah An-Nisa ayat 103, Allah memerintahkan untuk beribadah sholat. Namun di dalam Al-Qur’an tidak dijelaskan secara rinci bagaimana kita harus sholat. Namun keteranga-keterangan tentang sholat dapat kita temukan pada hadits-hadits Rasulullah saw.
Al-qur’an yang berisi tentang Sholat terdapat pada surah An-Nisa ayat 103
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَّوْقُوْتًا
“Sungguh sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa : 103).
Menafsirkan ayat di atas, ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “(sholat itu) merupakan kewajiban yang telah ditentukan waktunya. Selain menekankan wajibnya sholat, ayat ini juga menunjukkan bahwa sholat itu memiliki waktu tertentu yang harus dipenuhi[4].







BAB III

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara etimologi kata akidah diambil dari kata dasar العـقـد  yang berarti ikatan. Maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan atau keimanan seperti yakin adanya Allah SWT, diutusnya para Rosul, Malaikat, dan akan datangnya hari akhir.Aqidah Islam adalah tauhid, artinya kepercayaan terhadap keesaan Allah swt. Oleh karena itu, Islam disebut juga agama tauhid.
Sedangkan Ibadah adalah bentuk pengabdian seorang hamba kepada sang pencipta (Al-Khaliq), Allah Swt. Sebagai rasa terima kasih atas segala nikmat yang telah diterimannya. Oleh karena itu Ibadah juga diartikan sebagai ketaatan, tunduk, dan ikut. Sedangkan pengertian ibadah menurut Fuqaha adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dikerjakan untuk mendapatkan ridho dari Allah swt.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang Akidah
1.      Surah Al-Baqarah : 163
2.      Surah Al-Ikhlas : 1-4
3.      Surah An-Nisa : 36
Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang Ibadah
1.      Surah Al-Baqarah : 21
2.      Surah Az-zariyat : 56
3.      Surah Ali Imran : 51
4.      Surah Al-Bayyinah : 5

B.     Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan yang penulis miliki, untuk kedepannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan kedepannya.


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon. 2012. Ulumul Qur’an. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Bina, Ahda. 2012. Rahasia 7 Waktu Sholat. Jakarta: Pustaka Media.
Departemen Agama RI. 1972. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Penerbit Syamil Qur’an.
Matsna, Mohammad. 2008. Al-Qur’an hadis, Semarang: Toha Putra.
Pengawarang, mochtar jaim. 2001. Kompedium ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hukum. Padang: CV. Hasanah.
Shihab, M. Quraish. 2013. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan Media Utama.





[1] Moh. Matsna, Al-Qur’an Hadis, Toha Putra, Semarang, 2008, Hlm. 40.
[2] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan Media Utama, 2013), Hlm. 57.
[3] Moh. Matsna, Al-Qur’an Hadis, Toha Putra, Semarang, 2008, Hlm. 41.
[4] Ahda Bina, rahasia 7 waktu sholat,2012. Hal 20-21

AYAT SERIBU DINAR

AYAT SERIBU DINAR
وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ. وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ. اِنَّ اللهَ بَالِغُ اَمْرِهِ. قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya diberi-Nya kelapangan dan diberi-Nya rezeki yang tak terhingga. Siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya dijamin-Nya, sesungguhnya Allah sangat tegas dalam perintah-Nya dan Dialah yang mentakdirkan segala sesuatu”.
Keterangan:
Salah seorang hartawan bermimpi dalam tidurnya, seorang lelaki datang kepadanya lalu berkata: “Beramallah dengan hartamu sebanyak seribu dinar kepada fakir miskin yang banyak berkeliaran meminta-minta”. Karana mimpi ini berulang kali dialaminya, maka dilaksanakan apa yang dimimpikannya itu, yaitu memberi sedekah kepada fakir miskin sebanyak seribu dinar. Pada suatu malam dia bermimpi pula bahwa lelaki itu datang lagi kepadanya dan mengajarkan beberapa kalimat ayat-ayat Al-Qur’an (ayat-ayat yang tersebut di atas) dianjurkannya agar dibaca dan diamalkan pagi dan petang maka Allah akan melepaskan dari bahaya yang akan menimpa dirinya.

Setelah hartawan itu bangun dari tidurnya ia memikirkan dengan penuh perhatian apa yang ia dapati dalam mimpinya seolah-olah ada hubungan dengan mimpinya yang terdahulu, maka dengan tidak ragu-ragu dibacanya dan diamalkannya, karena kalimat-kalimat itu adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak diragukan lagi kebaikannya. Tidak lama kemudian hartawan tersebut berada dalam suatu perjalanan melalui laut menumpang sebuah kapal layar, membawa barang dagangannya. Setelah kapal itu berada ditengah-tengah laut yang luas, bertiuplah angin topan yang sangat dahsyat, gelombang semakin besar, kapal terombang-ambing. Penumpang merasa cemas dan takut, hari mulai malam, hujan turun dengan lebatnya, tetapi si hartawan tetap tenang mengharap pertolongan Allah sambil membaca ayat-ayat yang didapatnya dalam mimpinya. Nakoda dan awak kapal berusaha sekuat tenaga menyelamatkan kapal dan penumpangnya, tetapi keadaan semakin bertambah dahsyat, kapal terhempas di atas sebuah batu karang dan akhirnya pecah. Disaat penumpang tidak sadar karena mabuk, kapal penuh air dan tidak dapat diselamatkan lagi. Tetapi anehnya si hartawan yang mengamalkan ayat-ayat tadi, telah terdampar ditepi pantai dalam keadaan selamat bersama harta dagangannya, demikianlah khasiat ayat yang didapatnya dalam mimpi karena dia beramal sebanyak seribu dinar, lalu ayat-ayat itu disebut dengan ayat seribu dinar. 

Kamis, 13 Juli 2017

Conversation

Going for a picnic
Part 1
Muhammad Qudrat    : Assalamualaikum wr.wb.
Ahmad Rasyidi           : Waalaikumsalam wr.wb.
Muhammad Qudrat    : How are you rasyidi?
Ahmad Rasyidi           : Alhamdulillah, I am fine thanks
Muhammad Qudrat    : I’m so happy that it is finally weekend
Ahmad Rasyidi           : Me too, I have waited it for so long. It is a long weekend
Muhammad Qudrat    : So, this weekend, go wherever you want?
Ahmad Rasyidi           : I don’t know, I don’t have any plans yet
Muhammad Qudrat    : Tomorrow, do you have any free time?
Ahmad Rasyidi           : Yes, there seems to be, why?
Muhammad Qudrat    : I want invites you to going for a picnic
Ahmad Rasyidi           : Picnic, oh yes I can, but where we will picnic?
Muhammad Qudrat    : Where do you want?
Ahmad Rasyidi           : In the garden? What do you think?
Muhammad Qudrat    : No, I get bored there, how about in the field park?
Ahmad Rasyidi           : Yes, I agree, there is indeed a beautiful place and comfortable
Muhammad Qudrat    : Ok, tomorrow I wait for you in my house at 09.00 am, so we go together
Ahmad Rasyidi           : Sip, I will come on time
Muhammad Qudrat    : And do not forget bring many of food and drink?
Ahmad Rasyidi           : Of course, easy it
Muhammad Qudrat    : Ok, see you tomorrow
Ahmad Rasyidi           : See you

Part 2
Ahmad Rasyidi           : Assalamualaikum wr.wb.
Muhammad Qudrat    : Waalaikumsalam wr.wb.
Ahmad Rasyidi           : Are you ready going for a picnic?
Muhammad Qudrat    : Yes, I’m ready
Ahmad Rasyidi           : Ok, Let’s go
Muhammad Qudrat    : Wait, I forget to bring something
Ahmad Rasyidi           : What?
Muhammad Qudrat    : I forget to bring food on the table
Ahmad Rasyidi           : Oh my God
Muhammad Qudrat    : Please wait, I will take the food
Ahmad Rasyidi           : Someone forgot again?
Muhammad Qudrat    : Nothing, sorry my friend
Ahmad Rasyidi           : By the way, what do you bring it?
Muhammad Qudrat    : I bring food, drinks, snacks, bread, cakes, and many others
Ahmad Rasyidi           : Wow, it is very much
Muhammad Qudrat    : Of course. and you, what do you bring?
Ahmad Rasyidi           : I just brought some food and drinks alone
Muhammad Qudrat    : No problem, we can share them later
Ahmad Rasyidi           : Well, you already know the way?
Muhammad Qudrat    : Yes I know, because I often go there with my parents
Ahmad Rasyidi           : Would have been nice?
Muhammad Qudrat    : Yes, that is so
Ahmad Rasyidi           : Come on, let’s go
Muhammad Qudrat    : Ok.    
Part 3
Muhammad Qudrat    : Finally, we have arrived. How do you fiil?
Ahmad Rasyidi           : Yes, I’m very happy
Muhammad Qudrat    : What you ever come here?
Ahmad Rasyidi           : Not yet, this is the first time I came here
Muhammad Qudrat    : What do you think about this place?
Ahmad Rasyidi           : This place is fun. There are lots of trees, beautiful scenery, and fish pond
Muhammad Qudrat    : Of course, and there is a garden, many flowers, and cool atmosphere
Ahmad Rasyidi           : Yes, you’re right. This is indeed a suitable place for a picnic
Muhammad Qudrat    : Rasyidi, are you hungry?
Ahmad Rasyidi           : Yes, I’m very hungry
Muhammad Qudrat    : Okay let us eat, after that we play
Ahmad Rasyidi           : I agree, how about we playing football?
Muhammad Qudrat    : Yes, I’m ready
Part 4
Muhammad Qudrat    : Rasyidi, now it was late afternoon, let us go home?
Ahmad rasyidi                        : Okay, I will get ready
Muhammad Qudrat    : Do not be long
Ahmad Rasyidi           : Yes, I will miss this place
Muhammad Qudrat    : Me too
Ahmad Rasyidi           : How we picnic next week again?
Muhammad Qudrat    : Ok, I’m ready
Ahmad Rasyidi           : Come on, let us go home

Muhammad Qudrat    : Yes, Ok my friend.

Ilmuwan Muslim Klasik

Ilmuwan Muslim Klasik Oleh: kelompok 8 (Muhammad Qudrat S. Ahmad Murdani. Nur Habibah. Sumondang Marito H. Jainuddin Dai) A.     Im...